Refleksi dari Chronicles Documentary oleh Bagus Muljadi
Pendahuluan
Tulisan ini saya susun sebagai tanggapan atas dokumenter Chronicles karya Bagus Muljadi. Dari Ternate ke Inggris, dari cengkeh ke teori evolusi—kisah ilmiah Indonesia sering terlupakan, tapi sangat penting untuk dikenang dan dipahami kembali. Dokumenter ini bukan hanya menyentuh aspek sejarah, tetapi juga mengajak kita merefleksikan ulang posisi Indonesia dalam percakapan global tentang ilmu pengetahuan dan identitas bangsa.
Cengkeh dan Rempah: Pintu Masuk Bangsa Eropa
Sebelum Revolusi Industri, rempah-rempah seperti cengkeh dan pala sangat mahal harganya. Bangsa Eropa rela mengerahkan sumber daya besar demi datang ke Nusantara, terutama Ternate, demi rempah yang berkhasiat untuk membuat makanan awet dan lezat. Namun yang mereka temukan lebih dari itu: mereka menemukan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Inilah titik awal bagaimana ekspedisi dagang berubah menjadi ekspedisi ilmiah.
Harga cengkeh memang sempat jatuh pasca-Depresi di Eropa, namun ditemukan khasiat lainnya sebagai bahan utama rokok. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas Nusantara tak hanya punya nilai ekonomi, tapi juga membuka pintu bagi penemuan ilmiah lintas bidang.
Ternate dan Lahirnya Teori Evolusi
Di Ternate, Alfred Russel Wallace menulis surat penting kepada Charles Darwin yang berisi pemikirannya tentang seleksi alam. Surat yang dikirim dari Ternate pada tahun 1858 ini menjadi dasar penting bagi publikasi teori evolusi. Ironisnya, kontribusi besar Wallace sering kali dilupakan karena sejarah lebih mengedepankan Darwin.
Wallace menulis artikel ilmiah secara independen di desa Dodinga dan menjadikannya markas ekspedisi untuk mengumpulkan spesimen dari Raja Ampat hingga Kepulauan Aru. Ia menggunakan perahu lokal dan mengirimkan hasil penelitiannya lewat kapal uap Belanda setiap bulan ke Inggris. Meski tak tahu Darwin telah memikirkan hal serupa, esai Wallace memaksa Darwin untuk mempercepat publikasi "The Origin of Species". Makalah mereka akhirnya dipresentasikan bersamaan di Linnean Society of London.
Wallace vs Darwin: Dua Jalan, Satu Gagasan
Meski teorinya dipublikasikan bersama, pemikiran Wallace dan Darwin punya perbedaan mendasar. Wallace menolak gagasan Lamarckian tentang evolusi, sementara Darwin cenderung mendukungnya. Wallace adalah seorang ateis, sedangkan Darwin adalah seorang Kristen. Namun keduanya sampai pada titik ilmiah yang serupa, menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah bisa lahir dari latar belakang yang berbeda.
Hari ini, teori seleksi alam lebih dikenal sebagai milik Darwin semata. Padahal kontribusi Wallace sangat nyata dan berasal dari wilayah kita sendiri: Ternate, Indonesia.
Indonesia sebagai Laboratorium Dunia
Abad ke-17 dan 18 adalah era di mana Eropa memasuki Zaman Pencerahan. Para naturalis seperti Wallace, Kemmerling, dan Van Bemmelen menjadikan Nusantara sebagai lokasi utama riset ilmiah-baik tentang geologi, flora-fauna, hingga kebudayaan. Mereka belajar dari ritual, dari masyarakat, dan dari fenomena alam setempat. Namun narasi sains global yang dibangun kemudian justru menempatkan Eropa sebagai pusat ilmu, dan Nusantara sebagai objek belaka.
Chronicles hadir untuk menantang narasi ini. Bahwa sebenarnya, Indonesia bukan hanya penyedia rempah dan tenaga kerja, tetapi juga penyedia gagasan, observasi, dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial.
Refleksi Epistemik: Siapa yang Berhak Mengklaim Sains?
Dalam sejarah modernisme, ilmuwan seperti Isaac Newton percaya bahwa dunia bisa dipahami secara empiris tanpa harus mengesampingkan aspek spiritual. Wallace sendiri melihat alam sebagai turunan dari Tuhan-sesuatu yang bisa dipahami melalui penelitian. Tapi seiring waktu, sains menjadi sesuatu yang dianggap netral dan eksklusif milik Barat.
Chronicles mendorong kita mempertanyakan kembali: apakah benar sains hanya lahir dari Barat menuju Timur? Atau justru dari interaksi, kolaborasi, dan semangat ingin tahu yang hidup juga di tanah Nusantara?
Penutup